Salah satu pelajaran paling mahal dalam hidup saya datang bukan dari bisnis, tetapi dari manusia.
Saya pernah memiliki seorang bawahan yang saya bantu dalam banyak hal. Saya membela dia ketika ada masalah, memberi kesempatan, dan mendukung perkembangan kariernya. Saya benar-benar percaya bahwa dia akan menjadi orang yang loyal.
Belakangan saya mengetahui bahwa di belakang saya, dia berbicara buruk tentang saya dan memengaruhi komunitas hingga saya menjadi tidak disukai. Walaupun ini merugikan diri saya, tapi saya memilih untuk tidak berusaha meyakinkan semua orang di komunitas tersebut bahwa itu semua bohong, terlalu melelahkan saat itu bagi saya untuk membereskan masalah ini ke komunitas biar mereka suatu saat yang menilai.
Saya bukan merasa bahwa saya orang yang bersih dari kesalahan, saya pasti mempunyai banyak kesalahan sebagai manusia, tetapi hasutan itu jauh dari apa yang sudah saya lakukan ke bawahan saya tersebut.
Awalnya saya sangat kecewa. Saya merasa pengorbanan dan dukungan yang saya berikan tidak dihargai.
Beberapa waktu kemudian, saya mendengar bahwa setelah pindah ke perusahaan lain, dia terlibat korupsi besar dan akhirnya dipecat.
Dari situ saya belajar bahwa membantu orang adalah hal baik, tetapi integritas tetap tanggung jawab pribadi masing-masing.
Saya juga belajar bahwa dalam bisnis kita boleh percaya kepada orang, tetapi jangan pernah berhenti menjaga batas profesional dan melakukan verifikasi.
Kebaikan tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Namun itu bukan alasan untuk berhenti menjadi baik. Yang perlu diubah adalah cara kita menjaga batas dan menilai karakter seseorang.
“Pengalaman itu tidak membuat saya berhenti percaya kepada semua orang. Tetapi saya belajar bahwa dalam bisnis, kepercayaan harus berjalan bersama batas yang sehat dan penilaian yang objektif.”