Jangan Menjadi Bos yang Mengubah Janji

Selama bekerja, saya belajar bahwa menjadi bos bukan hanya soal memberi target atau mengejar hasil. Menjadi bos juga soal memegang komitmen terhadap orang yang kita rekrut.
Ketika saya diminta bergabung untuk membangun sebuah divisi, saya sudah mengatakan dengan jujur bahwa saya bukan sales person. Saya lebih suka membangun sesuatu: menyusun sistem, mengembangkan tim, dan membuat sebuah divisi bertumbuh.
Pada awalnya itu yang saya kerjakan. Saya fokus membangun dan mengembangkan divisi hingga akhirnya berjalan cukup baik.
Namun seiring waktu, peran saya perlahan berubah. Saya mulai diminta untuk jualan dan mengejar target penjualan yang sebenarnya sejak awal bukan kesepakatan kami.
Di situlah saya belajar satu hal penting: jangan mengubah aturan permainan setelah seseorang masuk.
Jika sejak awal seseorang direkrut untuk membangun sistem, jangan tiba-tiba menilainya seperti seorang sales. Jika seseorang direkrut sebagai kreator, jangan kemudian memaksanya menjadi penjual.
Menurut saya, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan seorang bos:

  1. Dengarkan kemampuan utama orang yang direkrut
    Orang biasanya sudah tahu di mana kekuatannya. Tugas bos adalah menempatkan orang pada posisi yang tepat, bukan memaksanya menjadi orang lain.
  2. Pegang janji awal
    Jika di awal disepakati peran tertentu, perubahan besar seharusnya dibicarakan secara terbuka, bukan terjadi perlahan tanpa kejelasan.
  3. Nilai orang berdasarkan perannya
    Seorang pembangun sistem tidak bisa dinilai dengan ukuran yang sama seperti seorang sales. Keduanya penting, tetapi kontribusinya berbeda.
  4. Jangan hanya fokus pada target jangka pendek
    Target memang penting, tetapi divisi yang kuat biasanya dibangun oleh orang-orang yang diberi ruang untuk bekerja sesuai keahliannya.
    Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan mantan atasan saya. Saya menulis ini karena pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang kepercayaan.
    Ironisnya, divisi yang saya bangun selama bertahun-tahun akhirnya tidak berjalan baik setelah saya pergi. Bagi saya itu menjadi pengingat bahwa membangun sesuatu membutuhkan lebih dari sekadar target penjualan. Dibutuhkan orang yang ditempatkan pada peran yang sesuai dengan kemampuannya.
    Seorang bos yang baik tidak harus selalu menyenangkan semua orang. Tetapi seorang bos yang baik seharusnya berusaha menepati janji dan memahami kekuatan orang yang bekerja bersamanya.

“Saya direkrut untuk membangun divisi, dan selama saya memimpin penjualannya meningkat sekitar 300%. Karena itu saya belajar bahwa seorang bos seharusnya menilai orang berdasarkan peran yang dijanjikan sejak awal, bukan mengubah aturan ketika hasil mulai terlihat.”